Selasa, 27 November 2012

Kades Tinju Warganya Hingga Pingsan


Gara – gara kalah adu mulut, Ambyah Panggung Sutanto alias Kid Hamzah (42) Mantan petinju Nasional era tahun 2000 yang kini menjabat  Kepala Desa Ketangi, Kecamatan Purwodadi nekad meninju warganya hingga KO. Akibatnya, korban yang bernama Nandar (48) yang tak lain tetangga dekatnya tersebut harus dilarikan ke Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Purworejo.

Peristiwa bermula saat korban Sabtu pagi (24/11) berniat menggarap sawah yang di sewa dari mertua Kid Hamzah. Begitu sampai di sawah korban heran karena lahan itu sudah di semai bibit oleh orang lain. Melihat kenyataan itu korban kemudian mendatangi Kid Hamzah untuk minta penjelasan.

 Oleh Kid Hamzah, korban diberitahu jika lahan itu sudah digadaikan orang lain dan nanti akan diganti dengan tanah bengkok desa. Namun korban menolak karena belum ada kesepakatan dengan perangkat desa yang lain sehingga takut akan ada persoalan dikemudian hari. Tak ada titik temu, keduanya kemudian terlibat adu mulut.

Merasa kalah adu argumentasi, Kid Hamzah kemudian melayangkan bogem ke rusuk sebelah kiri sehingga seketika itu juga korban terkapar pingsan. Melihat kejadian itu sejumlah warga kemudian membawa korban ke rumah sakit. Terkait kejadian tersebut, kini sejumlah warg merasa takut terhadap kepala desanya yang mantan petinju dan ringan tangan.

Sementara itu, Kid Hamzah mengaku melakukan perbuatan tersebut karena terpancing emosinya. “Omongan Nandar sudah keterlaluan dan sangat merendahakan sehingga saya emosi,” kata Kid Hamzah. Diakui, dirinya memang meninju dan menampar wajah korban tapi tidak terlalu keras lantaran takut berakibat fatal.Sebab, sebagai mantan petinju Kid Hamzah mengaku banyak menguasai teknik pukulan. “Paling-paling kekuatan saya waktu itu hanya sekitar 10 persen saja. Kalau Power full saya yakin tulang rusuknya pasti sudah patah,” ungkap Kid Hamzah.

Masih kata Kid Hamzah, beruntung waktu itu ada Sugiarti (34) istrinya yang memegangi korban agar tidak terus mendekat dirinya. Istrinya juga sudah berusaha mencegah tindakannya yang sudah terpancing emosi dan tak terkontrol. “Saya tahu tindakan saya salah, tapi Nandar juga keterlaluan sekali,” tandas Kid Hamzah.

Kapolsek Purwodadi AKP Sujana membenarkan adanya kejadian tersebut. Namun demikian korban baru melaporkan secara lisan dan belum tertulis. Karena masih laporan lisan pihaknya belum meminta keterangan korban. “Kami minta segera korban membuat laporan tertulis disertai hasil visum sehingga dengan segera bisa ditindak lanjuti,” jelas AKP Sujana.

Senin, 26 November 2012

PATEN Memberikan Kemudahan Layanan Masyarakat


Untuk memudahkan pelayanan kepada masyarakat, Pemerintah Kabupaten Purworejo akan menempatkan layanan di kecamatan. Pelayanan administrasi terpadu kecamatan (PATEN), akan memberian pelayanan baik perijinan maupun dokumen lainnya. Untuk keperluan itu dilakukan sosialisasi kepada camat se kabupaten Purworejo, Jumat (23/11), di ruang Arahiwang kompleks setda.

Acara sosialisasi dibuka Assisten Sekda bidang Pemerintahan, Drs H Said Romadhon. Hadir sebagai nara sumber dari Direktorat Dekonsentrasi dan Kerja Sama pada Direktorat Jendral Pemerintahan Umum Kementrian Dalam Negeri. Mereka terdiri Dra Astuti Saleh selaku Kasi Wilayah II Subdit Fasilitasi Layanan Umum, dan Win Untoro selaku Kasi II Subdit Fasilitasi Kecamatan.

Kepala Bagian  Pemerintahan Setda Kendrasmoko SSos MSi mengungkapkan bahwa pemberian pelayanana di kecamatan sebagai amanat Permendagri 4/2010. Diharapkan adanya PATEN akan mempercepat pelaksanan reformasi birokrasi, serta langkah konkrit pemerintah dalam memberian kemudahan bagi investor untuk menanamkan usahanya di Purworejo. Direncanakan tahun 2013 mendatang, PATEN sudah dilaunching.

“Tujuan adanya PATEN, untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat yang mempunyai kepentingan untuk mendapatkan pelayanan, sehingga akan lebih efesian dan efektif. Selama ini pelayanan dilakukan di kantor pelayanana administrasi terpadu (KPPT) kabupaten. Nantinya sebagian kewenangan akan dilimpahkan kepada camaat. Sehinga masyarakat dalam mendapatkan pelayanan tidak terlalu menguras energi. Kewenangan apa saja yang akan dilimpahkan, akan disusun tim teknis,” katanya.

Pada kesempatan yang sama Drs H Said Romadhon, mengakui bahwa kualitas penyelenggaraan pelayanan publik pada saat ini memang masih perlu peningkatan ke arah yang lebih baik. Banyak hal yang menjadi penyebab belum optimalnya penyelenggaraan pelayanan publik tersebut. “Misalnya masih terbatasnya sarana pelayanan, petugas yang belum bersifat melayani, tidak jelasnya waktu dan biaya, serta prosedur panjang menyelesaikan suatu jenis pelayanan,” ungkapnya.

Ribuan Guru Ikuti Upacara Hari Guru dan HUT PGRI


Upacara peringatan Hari Guru sekaligus HUT ke 67 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), dilaksanakan di alun-alun Purworejo, Minggu (25/11). Meskipun hari libur, namun ribuan guru tampak bersemangat mengikuti upacara, dengan inspektur Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain MAg.

Dalam kesempatan tersebut, juga diserahkan penghargaan kepada SMP Negeri 19, yang berhasil menjadi juara I Lomba Sekolah Berkarakter Kebangsaan tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh dalam sambutannya yang dibacakan Bupati Purworejo menandaskan bahwa pendidikan merupakan sistem rekayasa sosial terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan, keharkatandan kemartabatan suatu bangsa. “Kita pun menyadari dan meyakini, bahwa guru merupakan tonggak utama dalam dunia pendidikan,” katanya.

Meskipun demikian menurutnya, masih ada pertanyaan sangat mendasar yang harus dijawab. Yaitu apakah guru sebagai profesi dengan segala konsekuensinya terutama peningkatan kesejahteraan, sudah mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia?
“Jawabanya, tentu iya, peningkatan kesejahteraan Guru mampu meningkatkan kualitas pendidikan, meskipun belum signifikan. Masih ada ruang yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dari aspek peran guru,” katanya.

Sementara itu, di sisi lain, yang perlu ditegakkan dan dijunjung tinggi oleh para guru adalah Kode Etik Guru dan prinsip-prinsip profesionalitas sesuai dengan amanat perundang-undangan. “Karena itulah saya menyambut baik dengan telah disiapkannya Kode Etik Guru, “ungkapnya.

Minggu, 25 November 2012

10 KK Transmigran Ikuti Program Transmigrasi


Sebanyak 10 kepala keluarga (KK) yang terdiri dari 41 jiwa asal Kabupaten Purworejo, akan mengikuti program transmigrasi. Rencananya mereka akan diberangkatkan ke UPT Tolihe Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara, pada tanggal 27-28 November 2012.

Untuk kesiapan pemberangkatan, para calon transmigran mendapat pengarahan di aula Disnakertransos Kabupaten Purworejo, beberapa waktu lalu. Pengarahan diberikan oleh Sekretaris Disnakertransos Drs Isdiharjo.

Dijelaskan oleh Drs Isdiharjo bahwa sebelum berangkat ke lokasi, mereka akan mendapat pelatihan dasar umum di Transito Ballatrans Pedurungan Semarang.Pelatihan meliputi adaptasi lingkungan, kelembagaan, mental, kewirausahaan, pemberdayaan keluarga dan masyarakat.
Oleh karena itu, ia berharap para transmigran mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. “Dokumen diri dan surat-surat penting agar dipersiapkan, “katanya mengingatkan.

Menurutnya, bantuan yang diterima transmigran dari masing-masing daerah berbeda-beda, sesuai dengan kemampuan daerah asalnya. Sehingga para transmigran diharapkan dapat saling bekerjasma, bantu-membantu dan selalu berkomunikasi. “Jaga nama baik Kabupaten Purworejom dengan bekerja keras mengolah lahan usaha yang telah disediakan,” pesannya

Sabtu, 10 November 2012

Disperindagkop Gelar Pasar Murah


Untuk menyediakan kebutuhan pokok masyarakat dengan harga yang terjangkau, Pemerintah Kabupaten Puworejo, dalam hal ini Dinas Perindagkop, menggelar pasar murah. Kegiatan dilaksanakan sehari, Jumat (8/11), dibuka Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain MAg. Pasar murah digelar di jl Setyabudi, depan pendopo rumah dinas

Berbagai kebutuhn pokok masyarakat mulai dari kebutuhan pangan hingga sandang, disedikan oleh mitra kerja Disperindagkop. Harganya pun lebih murah dibanding harga di pasaran. Seperti gula kelapa  Rp 12.000/ kg. Bandeng Rp 2.500-3.000. Telur ayam buras Rp 13.500/kg. Minyak goreng “Zico” kemasan plastik Rp 7.500/liter, kemasan botol Rp 10.000/lt. Gula pasir Rp 10.000/kg. Beras jenis IR 64 kemasan 2,5 kg Rp 16.000. Dan berbagai makanan olahan baik basah maupun kering.

Kepala Disperindagkop, Dra Suhartini MM, mengemukakan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Purworejo ke 1111 tahun 2012. Kegiatan tersebut digelar dengan  maksud, menyediakan kebutuhan pokok masyarakat dengan harga murah, sehingga bisa terjangkau oleh masyarakat kurang mampu. Untuk menyediakan kebutuhan tersebut, pihaknya menghadirkan beberapa mitra kerjanya, seperti usaha dagang (UD) dan kelompok usaha bersama (KUB).

Bupati Purowrejo di sela-sela pembukaan mengingatkan, agar masyarakat memberi kesempatan kepada yang kurang mampu untuk membeli kebutuhan tersebut. Karena barang tersebut harganya lebih murah dibanding harga di pasaran. Untuk itu jangan sampai ada aksi borong, atau untuk kulakan. “Dalam kegiatan pasar murah ini, mengandung beberapa dimensi, antara lain dimensi ekonomi dan sosial,” katanya.

Branding Purworejo Diluncurkan


Momentum pembukaan Pekan Purworejo Expo, sekaligus dimanfaatkan untuk meluncurkan branding Kabupaten Purworejo. Peluncuran ditandai dengan penempelan sticker di mobil Bupati Purworejo oleh Gubernur Jawa Tengah H Bibit Waluyo, Rabu (7/11)
Gubernur menyambut baik disusunnya branding tersebut dan berharap branding itu akan mendukung kegiatan promosi potensi daerah. Sehingga dengan branding tersebut nama Purworejo akan semakin melekat.

Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain MAg mengatakan, untuk memaksimalkan branding itu, semua mobil dinas Pemkab Purworejo akan ditempeli stiker. "Jadi nama Purworejo akan terpromosikan terus melalui kendaraan dinas yang jalan ke mana-mana," katanya.
Kepala Bappeda Drs Sutrisno MSi melalui Sekretaris Bappeda Bambang Sadyanto Raharjo SH menjelaskan, branding Purworejo itu akan dibuat dalam sejumlah properti. Antara lain payung, kaos, topi, gantungan kunci. "Kedepannya akan terus diproduksi dalam properti-properti lainnya supaya promosi daerah semakin mengena," jelasnya.

Ditambahkan branding Purworejo bertuliskan "Purworejo Go Agriculture Vision" bertujuan untuk mengikat komitmen Pemkab Purworejo dalam melakukan promosi baik nasional maupun internasional tentang keunggulan dan keunikan potensi yang berbeda dengan daerah lain.
Branding itu akan membuat Purworejo semakin dikenal luas dengan persepsi yang baik, dianggap tepat untuk investasi dan tujuan wisata, serta dipersepsikan sebagai tempat dengan kemakmuran dan keamanan tinggi.
"Penyusunan branding ini diawali dengan mengkaji potensi. Selanjutnya dirumuskan bersama dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat, baik dari pendidikan, organisasi kepemudaan, kelompok tani, seniman, dan masih banyak unsur lainnya.," jelasnya.
Ada empat warna yang dipilih dalam branding Purworejo. Yaitu hijau melambangkan kemakmuran, orange melambangkan kreatifitas, merah memberi kesan berani, dan hitam menggambarkan kepribadian yang bersahaja dan sederhana.

Branding bertuliskan "Purworejo" dengan  tagline "Go Agriculture Vision" itu memuat simbol bedug pendawa, tunas kelapa, serta siluet topi dolalak. "Itu merupakan simbol-simbol dari potensi di Kabupaten Purworejo," katanya.

Selasa, 06 November 2012

Pakuwojo Kembangkan Ketela Unggul “Super Manggu”


Enam hektar lahan kering di Kabupaten Purworejo dijadikan lokasi pilot project pengembangan budidaya singkonga (ketela pohon) unggul “Super Manggu”. Kelompok tani (klomtan) setempat mendapat bantuan dari Dewan Pengurus Pusat (DPP) Paguyuban Keluarga Besar Purworejo (Pakuwojo) wilayah Jabodetabek. Tanam perdana dilakukan akhir pekan lalu, oleh Wakil Bupati Purworejo Suhar di Desa Mlaran Kecamatan Gebang.

 Klomtan yang mendapat bantuan adalah Klomtan Semangat Makmur Desa Malaran dan Maju Makmur Desa Ngaglik Kecamatan Gebang, Singkong Makmur Desa Somorejo/ Bagelen, Margo Mulyo Kelurahan Cangkrep Lor/ Purworejo, Marsudi Desa Cempedak/ Bruno, serta Maju Terus Desa Girimulyo/Kemiri.

Masing-masing klomtan luasnya satu hektar dengan bantuan  bantuan senilai Rp 17-19 juta. Bentuknya berupa bibit, obat-obatan, pupuk kandang, sewa lahan Rp 4 juta, dan bantuan sarana produksi lainnya. Penyerahan bantuan secara simbolis oleh Sekjen DPP Pakuwojo, Bambang Suwiryo, kepada ketua klomtan masing-masing.

Pada kesempatan tersebut Bambang Suwiryo,  mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut merupakan salah satu bentuk program kerja organisasi 2011-2016, yaitu “berhimpun dan berbuat”. Pihaknya melakukan analisis dan kajian, terutama untuk daerah yang jauh dari aliran irigasi. Kemudian diputuskan untuk melakukan intensifikasi pertanian, melalui budidaya singkong unggul. “Hal itu  sejalan dengan slogan Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, yakni bali desa bangun desa,” ungkapnya.

Pemilihan tersebut dengan bebagai pertimbangan, antara lain pasar singkong sangat terbuka dan potensi wilayah yang dimiliki Purworejo sangat luas.  Singkong “Super manggu” didatangkan dari wilayah Jawa Barat, yang dinilai mempunyai beberapa keunggulan, diantaranya produksinya sangat tinggi.

Bila singkong lokal produksi antara 6-8 ton/ hektar, Super Manggu bisa mencapai 40 ton basah per hektar. Kadar Aci lebih tinggi, yaitu sekitar 30%. Usia lebih pendek, 10-12 bulan. Untuk usia 10 bulan, diperuntukan bahan konsumsi, seperti makanan olahan. Sedangkan usia 12 bulan, sebagai pasokan pabrik pengolahan pati.

“Petani sebagai plasma akan mendapat sharing profit sebesar 20%. Besaran itu, saya optimis tidak akan merugikan petani, kendati harga ketela jatuh sekalipun. Kondisi itu akan tertutup dengan tingkat produksi yang sangat tinggi, bila dibandingkan ketela lokal. Intensifikasi ini kedepan arealnya akan diperluas. Untuk tahun 2013, direncanakan mencapai 50 hektar” katanya.

Berlanggan artikel Blogtegal via e-Mail